INDONESIA BARU ~ BOGOR,30 Agustus 2026 – Mentari sore mulai meredup, tapi semangat warga justru semakin ramai. Kawasan Stadion Pakansari, Bogor, berubah menjadi ruang keluarga raksasa pada Minggu sore (30/08/2026). Sejak pukul 16.00 WIB, trotoar, taman, dan pelataran stadion dipenuhi pengunjung dari berbagai usia.
Arus manusia datang silih berganti. Ada yang berjalan kaki santai, ada yang mendorong stroller, ada juga yang menggandeng anak sambil membawa bekal. Pengunjung tidak hanya berasal dari Bogor. Plat nomor kendaraan dari Depok hingga Jakarta terlihat berjajar di area parkir. Bagi banyak keluarga, Pakansari adalah pilihan paling pas: dekat, gratis masuk, dan suasananya menyenangkan.
Kebersamaan menjadi warna utama sore itu. Keluarga berjalan menyusuri area stadion sambil berbincang. Orang tua duduk di bangku taman sambil mengawasi anak-anak yang berlarian. Tawa dan obrolan ringan mengisi udara, menciptakan suasana hangat yang jarang didapat di tengah kesibukan hari kerja.
Triwatiningsih adalah salah satu pengunjung. Ia datang bersama suami dan anak-anaknya.
“Ke Pakansari sore-sore begini memang paling enak buat melepas penat setelah seminggu kerja. Anak-anak senang, kami orang tua juga ikut bahagia,” ujarnya sambil tersenyum.
Kehadiran keluarga seperti Triwatiningsih membuktikan bahwa Pakansari kini memiliki dua wajah. Di hari biasa ia adalah stadion megah tempat pertandingan olahraga. Di akhir pekan ia berubah menjadi taman kota tempat warga melepas rindu kebersamaan.
Sorak gembira paling kencang datang dari anak-anak. Daya tarik utama mereka adalah deretan sepeda kecil sewaan dengan warna-warni cerah. Dengan helm seadanya dan semangat menggebu, anak-anak mengayuh keliling area. Jatuh-bangun, tertawa, lalu mencoba lagi. Di sisi lain, orang tua setia berjalan di samping, merekam, atau sekadar berdiri menunggu dengan bangga.
Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya ruang publik. Di tengah padatnya aktivitas dan mahalnya tempat wisata, warga butuh ruang terbuka yang bisa diakses siapa saja. Pakansari menjawab kebutuhan itu. Tidak perlu tiket mahal, tidak perlu perjalanan jauh. Cukup datang, duduk, berjalan, dan menikmati waktu bersama.
Keragaman juga terasa kental. Warga Bogor berbaur dengan pengunjung dari Depok dan Jakarta. Ada yang fokus berolahraga ringan, ada yang menggelar tikar untuk piknik kecil, ada yang sekadar duduk menikmati jajanan. Perbedaan asal tidak jadi sekat. Semua larut dalam suasana sore yang sama-sama dinantikan.
Pukul 16.00 WIB memang waktu emas. Cuaca sudah teduh, angin berembus sepoi-sepoi. Kondisi ini membuat orang betah berlama-lama. Jumlah pengunjung pun terus bertambah hingga menjelang Magrib.
Bagi anak-anak, Pakansari adalah playground raksasa. Mereka bisa bertemu teman baru, mencoba hal baru, dan bergerak bebas. Bagi orang tua, ini adalah jeda. Jeda dari layar komputer, dari tenggat kerja, dari rutinitas. Momen langka untuk benar-benar hadir menemani anak tumbuh.
Keramaian itu membuat kawasan sekitar stadion hidup. Pedagang makanan dan minuman menjajakan dagangan. Musik dari speaker kecil mengiringi pejalan kaki. Lampu-lampu mulai menyala, menambah semarak suasana akhir pekan.
Secara sosial, Pakansari berfungsi sebagai ruang temu. Di sini status sosial melebur. Pejabat bisa duduk bersebelahan dengan pedagang. Warga kota dan warga desa sama-sama tertawa melihat anaknya jatuh lalu bangkit lagi saat belajar naik sepeda.
Hingga malam tiba, semangat itu belum padam. Anak-anak masih enggan pulang. Orang tua masih betah duduk. Sebagian pengunjung memilih jalan santai terakhir sebelum kembali ke rumah.
Bagi Triwatiningsih, sore di Pakansari adalah pengingat sederhana: bahagia tidak harus mahal. Bahagia bisa datang dari langkah kaki bersama, dari tawa anak, dari obrolan ringan di bawah langit senja.
Pada akhirnya, suasana di Pakansari sore itu meninggalkan pesan. Kebahagiaan sejati sering kali lahir dari hal-hal kecil. Dari ruang publik yang terbuka untuk semua, dari waktu yang diluangkan untuk keluarga, dan dari tawa yang dibiarkan lepas tanpa beban.
Pakansari bukan lagi sekadar stadion. Ia telah menjadi rumah kedua bagi warga Bogor dan sekitarnya untuk merayakan kebersamaan.
~Toni Arjuna Dieng~
