Close Menu
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Featured
  • Tulis Berita

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Eksklusif: Mahad Al Zaytun Membangun Peradaban Berbasis Nilai Adaptif Algoritma Media Sosial yang Harus Anda Ketahui

Eksklusif: Seminar Internasional Al Zaytun Bersama Prof. Dr. Joshua David Hollmann yang Harus Anda Ketahui

Eksklusif: “Bea Cukai Viral” Berikut Penjelasan Raffi Ahmad bersama Hotman Paris dalam Konferensi PERS yang Harus Anda Ketahui

Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Featured
  • Tulis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
Indonesia Baru
Subscribe Now
HOT TOPICS
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Featured
  • Tulis Berita
Indonesia Baru
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Featured
  • Tulis Berita
You are at:Home»Terkini»Eksklusif: Seminar Internasional Al Zaytun Bersama Prof. Dr. Joshua David Hollmann yang Harus Anda Ketahui
Terkini

Eksklusif: Seminar Internasional Al Zaytun Bersama Prof. Dr. Joshua David Hollmann yang Harus Anda Ketahui

penulisBy penulisJuni 13, 2026 8:19 am005 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Indramayu, 10 Juni 2026 , Ma’had Al-Zaytun dan Institut Agama Islam (IAI) Al-Azis menyelenggarakan Seminar Internasional bertema Theology and Popular Culture di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin Al-Zaytun Indonesia. Kegiatan akademik berskala internasional ini menghadirkan tiga guru besar terkemuka, yakni Prof. Dr. Hj. Aan Hasanah, M.Ed., Prof. Dr. Idzam Fautanu, MA., dari UIN Bandung dan Prof. Dr. Joshua David Hollmann, Ph.D. Congcordia University USA serta dosen dari IAI Al-Azis, Dr. Irvan Iswandi, SE., MT. Seminar tersebut diikuti oleh sekitar 3.920 peserta yang terdiri atas dosen, guru, pengurus yayasan, mahasiswa, pelajar, wali santri, serta para petani yang tergabung dalam Paguyuban Petani Penyangga Ketahanan Pangan Indonesia (P3KPI).

Kehadiran para akademisi lintas negara dan lintas tradisi keagamaan dalam forum ini menunjukkan komitmen Al-Zaytun untuk menjadikan pendidikan sebagai ruang dialog, kerja sama, dan pembangunan peradaban yang berlandaskan perdamaian. Di tengah dunia yang semakin kompleks akibat perkembangan teknologi informasi dan budaya populer, seminar ini menjadi momentum penting untuk mendiskusikan kembali peran agama dalam membangun masyarakat yang harmonis, inklusif, dan berkeadaban.

Salah satu pembicara utama yang menarik perhatian peserta adalah Prof. Dr. Joshua David Hollmann, Ph.D., Guru Besar dari Concordia University, St. Paul, Minnesota, Amerika Serikat. Dalam pidato pembukanya, ia mengaku terkesan dengan model pendidikan holistik yang diterapkan di Al-Zaytun. Setelah melakukan kunjungan ke berbagai unit pendidikan, pertanian, dan pengembangan masyarakat di lingkungan Al-Zaytun, ia merangkum kesannya hanya dengan satu kata: “Wow.” Menurutnya, Al-Zaytun merupakan institusi pendidikan yang unik karena mampu mengintegrasikan pendidikan dengan nilai-nilai toleransi, perdamaian, pembangunan masyarakat, dan harmoni sosial.

Profesor Hollmann menilai pengalaman yang diperolehnya di Al-Zaytun penting untuk dibagikan kepada masyarakat internasional, khususnya di Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa banyak masyarakat di luar Indonesia memiliki pemahaman yang terbatas mengenai Islam. Namun, selama berada di Al-Zaytun, ia menyaksikan wajah Islam yang menampilkan perdamaian, kehidupan yang harmonis, dan penghormatan terhadap perbedaan. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bukti nyata bahwa agama dapat menjadi kekuatan pemersatu dalam kehidupan sosial.

Dalam paparannya, Prof. Hollmann mengangkat tema hubungan antara teologi dan budaya populer dari perspektif Kristen. Ia menjelaskan bahwa inti ajaran Kristen adalah hubungan manusia dengan Tuhan yang diwujudkan melalui kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama manusia. Karena itu, kehidupan damai antarumat manusia merupakan ekspresi penting dari keberagamaan. Ia mengawali penjelasannya dengan mengangkat figur Nabi Ibrahim atau Abraham sebagai titik temu tiga agama besar dunia: Yahudi, Kristen, dan Islam, yang sama-sama mengakui Abraham sebagai leluhur spiritual bersama.

Menurutnya, kesadaran akan akar spiritual yang sama tersebut dapat menjadi landasan bagi dialog lintas agama yang konstruktif. Dalam konteks dunia modern yang sering diwarnai konflik identitas, agama perlu tampil sebagai kekuatan yang membangun persaudaraan dan kerja sama kemanusiaan. Karena itu, ia menegaskan bahwa komitmen terhadap toleransi dan perdamaian bukan sekadar pilihan moral, melainkan kebutuhan mendasar bagi masa depan dunia.

Lebih lanjut, Prof. Hollmann menjelaskan bahwa teologi tidak boleh dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Baginya, iman harus hadir dalam ruang sosial, pendidikan, kebudayaan, bahkan dalam budaya populer. Budaya populer tidak dapat langsung dinilai baik atau buruk, melainkan harus dievaluasi berdasarkan sejauh mana ia mendorong kebenaran, keadilan, martabat manusia, perdamaian, dan kesejahteraan bersama. Jika budaya populer mendukung nilai-nilai tersebut, maka ia dapat menjadi sarana penyebaran kebaikan. Sebaliknya, apabila mempromosikan kebencian, kekerasan, dan perpecahan, maka harus dikritisi secara bijaksana.

Dalam bagian yang sangat relevan dengan konteks pendidikan, Prof. Hollmann mengangkat konsep vocation atau panggilan hidup yang berkembang dalam tradisi Lutheran. Ia menjelaskan bahwa melayani Tuhan tidak hanya dilakukan di tempat-tempat ibadah, tetapi juga melalui profesi dan pekerjaan sehari-hari. Guru melayani melalui pendidikan, petani melalui penyediaan pangan, dokter melalui pelayanan kesehatan, dan orang tua melalui pengasuhan anak-anak mereka. Dengan perspektif tersebut, setiap profesi memiliki nilai spiritual sekaligus kontribusi sosial bagi kemanusiaan.

Pandangan tersebut terasa sangat dekat dengan realitas Al-Zaytun yang selama ini mengembangkan pendidikan berbasis kemandirian, ketahanan pangan, dan pembangunan masyarakat. Kehadiran para petani P3KPI dalam seminar ini menjadi simbol bahwa pendidikan dan pembangunan peradaban tidak hanya menjadi tanggung jawab akademisi, tetapi juga seluruh elemen masyarakat yang berkontribusi terhadap kehidupan bersama.

Menjelang akhir pidatonya, Prof. Hollmann memperkenalkan konsep “shalom”, sebuah istilah yang sering diterjemahkan sebagai perdamaian. Namun menurutnya, makna shalom jauh lebih luas daripada sekadar ketiadaan konflik. Shalom mencakup keutuhan, harmoni, kesejahteraan, keadilan, dan berkembangnya kehidupan secara optimal. Shalom menggambarkan relasi yang baik antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam semesta.

Menariknya, ia melihat nilai-nilai tersebut hadir dalam berbagai aspek kehidupan di Al-Zaytun. Ia menyaksikan upaya serius dalam membangun pendidikan, kehidupan bermasyarakat, perdamaian, dan kerja sama sosial. Karena itu, ia menyampaikan apresiasi atas berbagai ikhtiar yang dilakukan Al-Zaytun dan berharap hubungan akademik yang telah terjalin tidak berhenti pada seminar ini, melainkan berkembang menjadi kerja sama yang lebih erat antara Indonesia dan Amerika Serikat di masa mendatang.

Seminar Internasional yang diselenggarakan Ma’had Al-Zaytun dan IAI Al-Azis ini pada akhirnya tidak sekadar menjadi forum pertukaran gagasan akademik. Lebih dari itu, kegiatan ini menghadirkan ruang perjumpaan lintas agama, lintas budaya, dan lintas bangsa untuk membangun pemahaman bersama mengenai pentingnya pendidikan, toleransi, dan perdamaian. Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, pesan yang mengemuka dari Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin Al-Zaytun Indonesia adalah bahwa peradaban masa depan hanya dapat dibangun melalui dialog, penghormatan terhadap perbedaan, serta komitmen bersama untuk mewujudkan kehidupan yang damai dan sejahtera bagi seluruh umat manusia.

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleEksklusif: “Bea Cukai Viral” Berikut Penjelasan Raffi Ahmad bersama Hotman Paris dalam Konferensi PERS yang Harus Anda Ketahui
Next Article Eksklusif: Mahad Al Zaytun Membangun Peradaban Berbasis Nilai Adaptif Algoritma Media Sosial yang Harus Anda Ketahui
penulis

Related Posts

Eksklusif: Mahad Al Zaytun Membangun Peradaban Berbasis Nilai Adaptif Algoritma Media Sosial yang Harus Anda Ketahui

Juni 13, 2026 8:42 am

Eksklusif: “Bea Cukai Viral” Berikut Penjelasan Raffi Ahmad bersama Hotman Paris dalam Konferensi PERS yang Harus Anda Ketahui

Juni 13, 2026 6:35 am

Eksklusif: “Bea Cukai Viral” Berikut Penjelasan Raffi Ahmad bersama Kuasa Hukumnya Hotman Paris yang Harus Anda Ketahui

Juni 13, 2026 6:00 am
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Top Posts

Mobile Gender Gap Increased During Pandemic, New Data Shows

Maret 15, 2020 7:52 pm5 Views

Why is Nutrition Important in Overall Physical Fitness?

Januari 18, 2021 5:48 pm4 Views

Eksklusif: 50 Guru Besar Deklarasi Pendidikan Indonesia Raya Abadi demi Transformasi Pendidikan Abad ke-22 yang Harus Anda Ketahui

Juni 5, 2026 3:52 pm1 Views
© 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Featured
  • Tulis Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.