Close Menu
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Featured
  • Tulis Berita

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kodiklat TNI Cetak 734 Perwira Prajurit Karier TNI Gelombang I TA 2026 Siap Mengabdi kepada Bangsa dan Negara (Cek Faktanya)

Panglima TNI Lantik 734 Perwira Prajurit Karier TNI TA 2026 (Cek Faktanya)

Pasar Sasagaran Purwakarta: Ngopi Sambil Balik ke Zaman Dulu di Desa Dangdeur

Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Featured
  • Tulis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
Indonesia Baru
Subscribe Now
HOT TOPICS
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Featured
  • Tulis Berita
Indonesia Baru
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Featured
  • Tulis Berita
You are at:Home»Terkini»Bencana Kekeringan: Kenapa Terus Terjadi, Apa Penyebab Utamanya, dan Solusi Nyatanya? (Cek Faktanya)
Terkini

Bencana Kekeringan: Kenapa Terus Terjadi, Apa Penyebab Utamanya, dan Solusi Nyatanya? (Cek Faktanya)

penulisBy penulisJuli 10, 2026 5:45 pm013 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Oleh : M. Adhie Pamungkas
Pemerhati Lingkungan

Setiap musim kemarau, banyak daerah di Indonesia kembali menghadapi krisis air bersih, gagal panen, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan. Kondisi ini seolah menjadi pola yang terus berulang dari tahun ke tahun. Karena itu, muncul pertanyaan penting: apakah kekeringan hanya disebabkan oleh faktor alam, atau ada peran manusia di baliknya?

Secara ilmiah, perubahan iklim memang menjadi salah satu penyebab utama. Suhu bumi yang meningkat membuat pola cuaca semakin tidak menentu. Fenomena El Niño juga dapat memperpanjang musim kemarau dan mengurangi curah hujan di banyak wilayah. Namun, kekeringan tidak bisa dijelaskan hanya dari sisi iklim. Aktivitas manusia turut memperparah kondisi tersebut.

Alih fungsi hutan menjadi permukiman, perkebunan, atau kawasan industri membuat kemampuan tanah menyerap air semakin berkurang. Penebangan pohon secara liar menghilangkan penyangga alami yang seharusnya menjaga kelembapan tanah. Selain itu, rusaknya daerah resapan, pencemaran sungai, dan eksploitasi air tanah yang berlebihan menyebabkan air hujan tidak tersimpan dengan baik sebagai cadangan. Akibatnya, saat musim hujan air melimpah dan memicu banjir, tetapi ketika kemarau datang, cadangan air justru habis dan masyarakat mengalami kekeringan.

Dalam perspektif Islam, kerusakan lingkungan juga dipandang sebagai akibat dari ulah manusia. Allah SWT berfirman:

«”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat dari perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Surah Ar-Rum 30:41)»

Ayat ini mengingatkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab besar sebagai khalifah di bumi. Tugas manusia bukan hanya memanfaatkan alam, tetapi juga menjaganya agar tetap seimbang dan bermanfaat bagi generasi berikutnya.

Lalu, apa solusi nyatanya?

Pertama, memulihkan ekosistem hulu melalui reboisasi, penghijauan, dan perlindungan kawasan resapan air. Hutan yang sehat membantu menyimpan air hujan dan menjaga ketersediaan air tanah.

Kedua, mengembangkan konservasi air seperti embung, sumur resapan, biopori, dan penampungan air hujan agar air tidak langsung terbuang.

Ketiga, mendorong pertanian berkelanjutan dengan teknik irigasi hemat air, pemilihan tanaman yang sesuai iklim, serta pengelolaan lahan yang lebih efisien.

Keempat, membangun kesadaran ekologis masyarakat sejak dini melalui pendidikan, kampanye lingkungan, dan kebiasaan hidup hemat air.

Kelima, memperkuat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan dunia usaha agar penanganan kekeringan dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan.

Dalam Islam, menjaga lingkungan juga bernilai ibadah. Rasulullah SAW bersabda:

«”Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu dimakan oleh manusia, burung, atau hewan, melainkan menjadi sedekah baginya.”
(HR. Sahih Bukhari)»

Hadis ini menunjukkan bahwa merawat alam bukan sekadar urusan dunia, tetapi juga bagian dari amal kebaikan. Pada akhirnya, kekeringan bukan hanya soal kurangnya hujan, melainkan juga soal bagaimana manusia memperlakukan bumi. Jika lingkungan dijaga dengan baik, maka risiko bencana dapat dikurangi dan kehidupan menjadi lebih aman.

Menjaga air berarti menjaga kehidupan.

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleEksklusif: Kemhan RI Gelar Sosialisasi Pembinaan Kesadaran Bela Negara di Jember, Libatkan Pekerja dari Berbagai Sektor yang Harus Anda Ketahui
Next Article Mendagri Tegaskan Kesiapan Integrasikan Sistem Data Kemendagri ke Satu Data Indonesia (Cek Faktanya)
penulis

Related Posts

Kodiklat TNI Cetak 734 Perwira Prajurit Karier TNI Gelombang I TA 2026 Siap Mengabdi kepada Bangsa dan Negara (Cek Faktanya)

Juli 27, 2026 7:45 pm

Panglima TNI Lantik 734 Perwira Prajurit Karier TNI TA 2026 (Cek Faktanya)

Juli 27, 2026 7:35 pm

Pasar Sasagaran Purwakarta: Ngopi Sambil Balik ke Zaman Dulu di Desa Dangdeur

Juli 27, 2026 4:29 pm
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Top Posts

Rumah Makan Sawarga di Jatiasih Diserbu Pengunjung, Menu Lezat Harga Bersahabat Jadi Magnet

Juli 27, 2026 1:36 pm36 Views

Mobile Gender Gap Increased During Pandemic, New Data Shows

Maret 15, 2020 7:52 pm8 Views

Sungai Kali Odo di Desa Gedangan Jadi Pilihan Utama Keluarga untuk Rekreasi Akhir Pekan

Juli 22, 2026 11:52 am5 Views
© 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Featured
  • Tulis Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.